October 5, 2009 - No Responses

mikir…mikir…lagi… mengapa
aku sangat mencintai dia,
seseorang yg berpikiran
sederhana dan amat manis itu.
mmm…aku masih saja terus
memikirkan dia padahal
semuanya sungguh sederhana,
sangat sederhana,
sesederhana bahwa aku hanya
harus selalu mengakui kalau
aku memang sangat
mencintainya meskipun
sebenarnya semua ketulusan
itu telah diketahuinya. miz u
hny…

Bookmark and Share

One Simple Goodbye

March 26, 2009 - No Responses

Siap-siap pindah ke qurrotaaayun.astalog.com in english

Bookmark and Share

Langit Sore

March 1, 2009 - No Responses

Bagiku dia bernuansa langit sore,menyenangkan penuh warna dan begitu lembut hadirnya mencoba mencuri segala perhatianku.
Keindahan yang kadang ditelantarkan kesibukan metropolisnya.
Dia tak menyadari terkadang secara misterius begitu manisnya ia bagiku, membuatku ingin berlari ketempat dimana racun dunia si polusi udara tak bisa lagi memerahkannya, dimana mataharinya tampak putih menguning oleh atmosfer ketulusan yang utuh tak berlubang.

Apakah ia mengira aku tahu bagaimana hari-hari ini akan berlalu saat aku tak bersamanya lagi, hari ini, nanti…

Terlalu banyak keindahan yang kubutuhkan untuk mengalahkannya.
Mengalahkan kelembutan lembayung biasan fotosfer hati yang tak ia sadari itu.
Yang telah membuatku begitu bodoh hingga harus bertemu kebersahajaan alam semesta tuk kembali ke akal sehatku.

Sekarang ia tak tahu, mungkin tak pernah tahu.
Betapa aku selalu ingin bersamanya bahkan bila setelah itu aku ditakdirkan harus bertemu malam.

NB: Sirius adalah Canis Major Alpha

Bookmark and Share

Ten Things I Love About Soccer

February 17, 2009 - No Responses

1. Drama……. selalu saja terjadi, apa yang dicari orang dalam sebuah reality show… it’s drama….

2. Emotional Study…. belajar mengenali ekspresi jujur… kesedihan dan kegembiraan , atau ngga jujur saat mereka melakukan diving.

3. Serunya saat berusaha menebak gelagat wasit yang disogok. bagaimana dia mencari celah untuk berbohong diantara tembok rapuh bernama ketegasan dan Fair Play.

4. Ngilangin stres… si hari yang penat setelah minum kopi dan tetep aja  pikiran masih kacau

5. Tempat dimana kamu punya alasan untuk berteriak. Satu frasa penuh emosi…. Gol…..!!!!

6. Daripada mikirin satu cowok yang ngga jelas mending mikirin 22 cowok dengan satu bola dan dua gawang.

7. Forza Milan !!!

8. Ewako PSM !!!

9. Syamsul…syamsul…syamsul…

10. Gattuso…Gattuso…Gattuso…

Bookmark and Share

Jalan Nggak Santai Seminggu yang Lalu (it’s a long story…)

February 1, 2009 - No Responses

Aku mendapati diriku sedang duduk dan bercengkerama pendek dengan seorang ibu cantik berjilbab pink dan seorang gadis kecil ceria yang sangat cantik, pintar, dan sopan, semua temannya memanggil dia “icha”. Di sebuah pojok dinding tua… dikelilingi buku-buku tua berdebu dan icha mulai bercerita dengan lincah tentang pengalamannya padaku dan ia mengekspresikan rasa tidak senangnya pada sesuatu, rasa gembiranya, rasa jengkelnya selalu diikuti gerakan yang membuat semua orang berpaling ke arahnya.

Aku selalu terpikat dengan permainan warna dan begitulah aku terpikat dengan permainan warna-warni cahaya sebuah pementasan di sebuah TV di pojok lain ruangan, saat itulah gadis kecil ini dengan supel langsung menegurku mungkin karena melihat aku begitu tertarik dengan apa yang kusaksikan “duduk di sini aja kak…, ini waktu kami main di Moscow”, aku terkejut, gadis kecil itu beranjak dari kursinya dan duduk bersama teman-temannya, lalu ia mulai bercerita…

Baiklah…. singkat kata rasa lelahku berakhir di titik itu, dan itu bukanlah hal yang kurencanakan, bahkan seharusnya aku tak berkeliaran di tempat itu seharusnya saat itu kalo sesuai rencana aku berada di suatu tempat dekat cikarang bergumul dengan pasien2ku.

Lelahku dimulai selang 3 hari sebelumnya, aku hanya bersiap ke kota bandung, yah… bersikap ala “backpacker” yg siap berpetualang kapan saja, dimana saja sendiri. aku bahkan tak ikut rombongan keluarga besarku, padahal tujuanku adalah menghadiri pernikahan sepupu jauhku atas permintaan ibuku. Tibalah aku sendiri di bandung, cari alamat sendiri, lalu membuat sesepuh2 keluarga ibuku terheran2, karena semua rombongan kesasar kecuali aku dan akupun tiba lebih dulu (padahal sudah kukatakan, kalo masalah lorong atau gang, tukang becak lebih banyak tahu daripada supir pribadi). Tugasku cuma satu, temani ibuku.

Besok paginya aku malah menemukan diriku bangun jam 5 lewat di Lembang, muasalnya ibuku menyuruhku bergaul dengan tante2 dan nenek2ku yang jumlahnya sekitar 5 mobil dan mengikuti mereka sebuah villa di Lembang. Kabut yang jatuh dipegunungan disertai terbitnya matahari pagi sejuk sehabis hujan semalam…kusaksikan di teras atas tapi…buat apa pemandangan indah itu keluarga besarku tak menikmatinya, yang mereka pikirkan hanya teriakan “sudah masakmi umba2 nu?”, “Ta’pasangmi sanggulku nak?”, dan pikiran kebayanya ketinggalan atau tidak, tak berapa lama mereka semua sudah selesai berdandan seperti topeng jam 7 pagi. Luar Biasa…nih tante2!!!

Cuma aku yang pakai sweater, kebetulan aku salah satu yang “kebayanya ketinggalan” itu tapi tak memikirkannya, aku berkeliling di sekitar villa berjalan di sisi bukit dengan sepetak jalan dengan bunga2 kertas warna-warni menjuntai menjadi atap dan tirai, herannya aku dengan keindahan yang tak dipedulikan. Ketika terpaksa harus berdandan, aku kembali ke tempat kabut tipis indah diantara bukit dengan matahari terbit itu dengan secangkir kopi hangat duduk di kursi bambu. Toh segalanya akan beres jika aku bertemu ibuku di gedung pernikahan, dalam 20 menit aku sudah sama badutnya dengan yang lain.

Pagi itu suasana sangat tenang ketika sepupu jauhku mengucapkan “miitsaaqan gholidz”nya pada gadis sunda yang “guelis pisang” hehehe…, semerbak melati dimana-mana membuat selera makanku membumbung, kudatangi semua meja prasmanan kecuali “sate ayam”.

Kupikir akan membosankan tapi nyatanya aku sangat senang disitu, membuatku ingin berbagi cerita dengan jeng Li,  eh… lagi ke Dufan dianya. Jadi aku malah berbagi cerita dengan teman lain yang untungnya tumben dia mo dengar.

Semua selesai pukul 2 siang dan ibuku mengijinkan aku pergi jam 3 sore, karena suatu insiden barang ketinggalan, aku harus ke tengah kota bandung dulu ke tempat sepupu satu kaliku, baru jam enam sore aku balik ke bekasi. Ah… semua sudah diset sempurna, paginya aku bisa ke anyer, nonton gerhana matahari cincin berlian itu. Tapi… jauh2 dari makassar ayahku entah bagaimana tahu rencanaku ini. Dan dia membuatku berjanji nggak akan ke Anyer. Maka tibalah aku di bekasi dengan kecewa dihibur oleh gol David Beckham yang akhirnya cetak gol juga dia di MIlan, lalu tidur tenang….

Langit mendung, tenang, syahdu…. dan ah….gitar… meski aku tak bisa dibilang mahir tapi inilah hiburanku di sore temaram, berpikir, andai saja…. aku bisa lihat gerhana matahari cincin berlian di anyer. Sambil menatap gumpalan-gumpalan awan kelabu dan ancaman “rainy imlek”. Tapi… terkadang… terkadang…, kamu nggak tahu doa kamu yang mana yang lebih dulu dikabulkan oleh 4JJI swt. 20 menit sebelum gerhana total untuk wilayah bekasi…, gumpalan awan besar menyingkir, meski aku harus memakai helm standar untuk mengurangi silaunya sinar matahari dan membuatku terlihat konyol seperti suporter PSM yang siap tawuran.he…..

Dan pada saat matahari embuat cincin di sekeliling bulan, seorang teman meminta helm tolol itu karena ia juga pengen liat, sehingga aku tak bisa liat karena silau, tetapi tiba2 ada selembar tipis awan kelabu yang justru datang menyelamatkan momen berharga itu, melapisi tipis-tipis sehingga aku dapat melihat cincin gerhana matahari sempurna tanpa silau dengan mata telanjang.

Aku gembira sekali, meski tak sebagus anyer (agak besar disisi kiri) tapi benar2 cincin sempurna, aku tak menyangka benar2 bisa melihatnyaAku bersyukur karena bisa melihat peristiwa langka ini, hingga kupikir aku sudah menari-nari. hehehe….

Tapi… itu bukan ujung ketenanganku,telepon berdering….intinya aku harus ke Bandung lagi!!! Busyet dah… dalam 15 menit aku beranjak di temani matahari dan bulan yang baru saja mselesai melengkapi ijtimanya, mengucapkan selamat tinggal pada bulan muharram, sambil naik bus ke bandung lagi, kali ini nebeng rombongan teman yang lagi mau bersenang-senang di bandung.

Besok paginya aku heran sekali terbangun di bandung padahal kemarin sore aku lagi duduk2 santai di bekasi. Setelah mengatur segala sesuatu, termasuk menikmati matahari terbit dari balik bukit di samping Tangkuban perahu, sekali lagi dengan secangkir kopi yang sangat kubutuhkan bila sangat lelah jiwa dan raga. Cabut dari bandung, nganter mama ke Cikini.

Sorenya tiba di cikini, pamit pulang saat malam tiba, siap balik ke bekasi dan…rumah tanteku yang ini nggak sampai 200 meter dari TIM, dan aku tak bisa menahan godaannya, meski sangat lelah aku berbelok arah…

Aku bertemu Syahnangra salah seorang pelukis di galeri cipta II. singkat kata aku sudah menikmati pameran lukisan syahnagra. aku nggak ngerti lukisan tapi aku suka liat aja. aku suka lukisan yang warna-warni seperti lembayung tapi menggambarkan kota atau desa. Ada sebuah lukisan yang aku pikir, nih bikinnya sembrono amat, dia cuma nyampur abu-abu dan biru seperti dihamburkan lalu garis2 dibentuk dari ujung tumpul mungkin dari ujung belakang pemegang kuas bulu. untuk menyingkirkan cat, membuat kotak2 nda jelas ditengah lalu sedikit dipinggir kiri dan kanan bauran hijau pucat gerombol bergelombang. Nih lukisan apa…pikirku, tapi aku langsung ngerti ketika baca judulnya. “Jakarta dan Pohon”, ah… pantas kacau pikirku, teringat segerombolan orang2 berdedikasi yang berusaha buat peta hijau jakarta yang biasa ngumpul di gedung sebelahnya.

Kelar di situ, akupun ke toko buku antik di ujung graha bakti, pengen liat2 buku antik dan tampaklah segerombolan anak2 yang kupikir pernah kulihat sebelumnya di suatu malam ketika mereka menyanyikan lagu tentang teman mereka yang seperti “mr.Bean”. Aku sedang melihat buku tua, saat itulah gadis ii menyapaku dan tanpa kusadari aku larut bersama mereka hingga hampir dua jam menonton perjalanan mereka saat Festival Teater anak-anak dunia di Moscow, menonton si Icha kecil yang jelita dengan sigap menjawab wawancara dan sekaligus melihatnya bercerita penuh ekspresi ttg semua hal termasuk wawancara itu. “Colorful,playful,joyful” komen salah satu penonton, “anak2 suka belajar tapi tidak suka digurui” ucap bijak sang pembimbing yang berambut abu2 gondrong dengan pernik kayu, yang sebenarnya sering aku lihat di toko buku itu. Ibu berjilbab pink menerangkan beberapa hal padaku dengan senyum bangga pada anak2 itu. Baru kutahu mereka adalah anak2 “Teater tanah air”. Aku melihat si Icha kecil dan satu hal yang pasti melintas di kepalaku, anak ini nggak boleh ketemu si Bahar, temanku yang agak pedofil huahaha….. (sori fren… just kidding).

Aku balik lagi ke bekasi dengan senyum simpul, kukira aku tak butuh secangkir kopi lagi untuk menghilangkan rasa lelah…

NB: Kau seperti cacing di kepalaku, terus menggeliat tak pernah berhenti mengeluarkan suara-suara, kemanapun aku pergi

Bookmark and Share

Di Sisi Awan Kelabu II

January 19, 2009 - No Responses

Pernahkah kamu menginginkan sesuatu tapi belum bisa kau dapatkan dan tak tahu apakah akan engkau dapatkan, dan masa penantian itu akhirnya jadi semacam pelatih untuk kesabaranmu.

Maka saat itu engkau hanya memikirkan suatu hari yang disebut “Hari Terkapar”. So…kita akan bernyanyi tentang “Lazy days” yaitu… rentangkan tanganmu seakan hendak memeluk awan dan berbaringlah menghadap langit apapun yang ia sajikan, saat tertentu biarkan hujan membasahi wajahmu menguatkan sendi-sendi hatimu, lalu katakanlah….. Yaa…Penguasa yang menggenggam hatiku…Engkau menyuruhku berserah diri, bukan menyerah.

Masih menanti….. konjungsi bulan dan matahari dari balik awan kelabu, menyibak selubungnya dengan hati, karena gelap bukan berarti sepi. Bumi tetap berevolusi lambat dan berotasi kencang meski tak terasakan kecuali oleh gerakan semu bintang-bintang, dan bulan pun tak menghentikan langkahnya sebagai satelit setia baginya baik saat dipuja oleh bumi karena secantik purnama atau saat tak dihiraukan ketika bintang-bintang berpesta karena redupnya sang bulan mati.

Terlepas dari itu, mendapatkan keinginan kita atau tidak bukanlah issue utama dari semuanya, tapi bagaimana dirimu menghadapi kenyataannya dan berhasil melewatinya dengan sekulum senyum penaklukan diri dari nafsu duniawi.

NB: Contohnya…. Apa masih bisa yah aku ngeliat diamond ring eclipse….. hujan mulu sih… bertepatan tahun baru imlek lagi, bukan hujan lagi tuh tapi banjir….!

But… bagaimanapun setiap gumpalan awan selalu memiliki dua sisi, tiap sisi yang gelap ada sisi yang terang…. katenye…. banyak rejeki on rainy imlek…. katenye….! but i  prefer the eclipse….

Bookmark and Share

I Want To See Diamond Ring Eclipse

January 12, 2009 - No Responses

Diamond Ring Eclipse adalah fenomena yang terjadi sesaat sebelum dan setelah terjadinya gerhana matahari total yang berbentuk cincin. Ini adalah salah satu peristiwa langka, hanya terjadi di daerah tertentu dalam waktu tertentu dengan durasi yang sangat pendek. Dimana gerhana matahari akan terlihat mirip seperti cincin berlian.

Fenomena ini diprediksi bakal terjadi pada gerhana matahari 26 januari ini, dan hanya ada satu tempat di seluruh pulau jawa yang kemungkinan dapat menyuguhkan fenomena ini yaitu pantai Anyer. Saking langkanya peristiwa ini menurut kabar burung astronom-astronom indonesia baik yang profesional maupun amatir semua bergegas menyerbu Anyer.

Aku pengen banget ngeliat fenomena ini secara langsung. Tapi… rencananya aku harus ikut mamaku ke bandung. disana yang terlihat hanya gerhana matahari parsial saja.

Nb:

When the shrinking visible part of the photosphere becomes very small, Baily’s beads will occur. These are caused by the sunlight still being able to reach Earth through lunar valleys, but no longer where mountains are present. Totality then begins with the diamond ring effect, the last bright flash of sunlight. (http://en.wikipedia.org/wiki/Solar_eclipse.)

Bookmark and Share

Hilal Muharram

January 3, 2009 - No Responses

Dia selalu bertanya tentang dirinya sendiri. Tentang tiga bintang yang kupilih untuk menginterpretasikan teka-tekinya. Dia terlalu sibuk untuk mencari dan aku terlalu sabar untuk menanti.

Terlalu sulitkah semua rumus itu, padahal sepertinya mungkin saja…mungkin saja… tak ada teka-teki, mungkin ini semua adalah sibghah, kau rasakan seperti celupan sejuk di relung-relung dadamu yang begitu menenangkan, atau sebuah misykat di dalam mishbah yang berpijar mengalahkan cahaya seisi alam semesta dari sumber misterius membuat para astronom terpesona, menebak-nebak berteori sambil berpikir begitu banyak dan luasnya hal yang masih misterius tapi terhampar nyata tanpa selubung.

Kesejukan dada atau cahaya misteri tak mampu menjawab pasti, kecuali… kau adalah Qurrota ‘Ayuun ….saat kau tersenyum.

NB: Berpuasalah, tak peduli kesedihan atau kebahagiaan, maka hatimu akan tetap tenang. hehehe….

Bookmark and Share

LABIRIN

December 31, 2008 - No Responses

Sambil bercanda aku terus berlari mengejarmu, baru saja kumulai tawaku saat aku bertanya mengapa jalan lurus yang kutempuh mulai terlihat membingungkan dan berkelok. Kupelankan tawa dan mulailah ia terasa layaknya labirin. Tak kulanjutkan tawaku lagi dan semua senyap….. sayup-sayup hantu teka-teki zeno mulai gelapkan aku, dari ketakutan akan terkalahkan oleh ketakterhinggaan abadi. Tak berujung dan kita masih di dalam sana dan aku masih berlari dalam sunyi terancam tanpa akhir yang baru kusadari.

Mengapa kita tak bisa merasa pasti seperti 1+1=2, tanyaku dalam hati. Mengapa harus ada 1+1/2+1/4+1/8+1/16+1/32+……dst=2, protesku, mengganggu sekali…sampai kapan aku berlari. Di titik ini aku berharap terselamatkan, terselamatkan dari kebingungan, terselamatkan oleh kekosongan yang tidak kau yakini itu. Dan akupun menunggu dalam sunyi dan sepi… halus lembutnya nurani telah kubisikkan padamu…Meskipun tak ada, itu ada sayangku… Tak ada jawaban.

Ah… disini tak nyaman lagi hatiku mulai berontak dan berteriak memecah kesunyian. Jadi mengapa kau harus bingungkan aku dengan terus berlari mengejarmu. Lari…. DI DALAM LABIRIN!!! sesak…aku sesak…, sebentar lagi nafasku akan habis karena terus berlari…semakin lambat dan semakin lambat. Suatu hari…entah kapan aku akan berhenti di titik nol itu, denganmu atau tanpamu.

Saat ini aku memang masih terus berlari ditemani senandung syair semoga kutemukan celah untuk memahami algoritmamu.

NB: Nyontek dikit dari Biografi Angka Nol by Charles Seiffe yang lagi ngejelasin sejarah penemuan sub mata pelajaran yang bernama limit. Hehehe…. ini curahan hati orang bingung yang lagi febris seminggu yang lalu.

Bookmark and Share

Boneka yang Kubenci Selama Hampir 27 Tahun

December 27, 2008 - No Responses

Mereka ada dua, satu anjing bernama snoopy, satunya lagi setelah beberapa tahun baru kusadari jenisnya kucing yang warnanya hingga kini masih sulit kudefinisikan. 40×30x30 cm of disaster. Aku memiliki mereka sejak ulang tahun pertamaku, nggak tahu  kado dari siapa (blum bisa baca sih waktu itu). Tapi satu hal yang kutahu, 26 tahun kemudian boneka itu masih tetap ada dan selama itu aku tak pernah menyukainya.

Aku bukan tipe anak yang suka boneka, bagiku mereka monster apatis, yah sekali tertawa, tertawa terus, yah kebanyakan gitu. Aku sudah berusaha menyingkirkan boneka itu berkali-kali, dua kali pindah rumah dan kuturunkan hingga adikku yang keenam, tetap saja aku selalu menemukannya lagi-lagi di kamarku, mungkin tiap kali melihat boneka itu, semua orang tahu itu milikku dan selalu mengembalikannya ke kamarku, dan boneka2 itu mulai seperti hantu, tiba-tiba saja sudah ada di hadapanku. Hantu masa lalu, nggak suram sih tapi kata yang tepat adalah menjengkelkan.

So…. aku tak pernah suka boneka, kenapa….?, karena mereka tak bisa mengekspresikan perasaannya, emosinya. Si barbie… tak pernah sedih, ia selalu berpikir dia sedang di catwalk. Si Teddy gemuk, tetap terlihat nyaman saat iler menetesi kepalanya, si Kitty, ehm… ekspresinya sih nggak masalah tapi yang memeluknya pasti jadi centil nggak jelas atau pura2 centil memuakkan, Si Tweety , cuma ingatkan aku pada jidat si Qalbi waktu masih baby…. (Nih boneka2 yang jadi koleksi acak adik2ku).

Tapi tak ada yang lebih kubenci dibanding dua boneka yang tak pernah bisa kusingkirkan itu. Di saat aku lagi bosan-bosannya di tempat jagaku, 4 hari di tempat yang sama, mereka tiba2 saja menyergap masuk ke kepalaku, seperti hantu, seperti monster……

Apa kubilang…. mereka adalah hantu menjengkelkan yang datang pada saat kepala sedang kacau seperti berputar-putar dalam labirin ketidakpastian, badan febris, nafsu makan menurun, ginggivitis pula, disertai ketidakstabilan emosi oleh penurunan masif estrogen, tak ada teman bicara, tanpa aroma melati yang selalu menghangatkan jiwa dan tidak tidur semalaman karena pasien yang datang tiap dua jam sejak jam 10 malam hingga jam 8 pagi. Kemudian satu-satunya hiburanku adalah Arteta yang membuat kocar-kacir pertahanan chelsea.

But…. masih ada satu jenis boneka yang aku sukai sih, Teddy kurus berwajah jelek berwarna hijau.Tapi aku tak memilikinya aku melihatnya di video klip “Unwell” M20, dipegang oleh Rob Thomas. Hehehe….. bayangkan Rob Thomas Rocker latin, keren, bersuara macho pegang Teddy Bear… it’s a blast!

NB: Buat adik-adikku yang membaca blog ini “Singkirkan kucing jelek itu dari kamarku !!!”

Bookmark and Share